Riuh Ombak

Sumber : Pinterest

Beberapa minggu lalu, aku kembali pada sudut gelap di ruanganku. Setelah beberapa minggu sebelumnya kuungkapkan kebahagiaannku karena aku berhasil bertumbuh, setidaknya menurutku. Tapi ternyata, dinamika hidup tak pernah membuatku terbiasa dengan naik-turunnya. Saat naik, aku merasa bangga dan kagum, karena ternyata aku bisa berada di titik itu, disaat diri seringkali ragu dan berkata aku tak mampu. Tapi disaat turun, aku terus saja kaget dan merasa pencapaian sebelumnya ternyata bukan apa-apa. 

Aku baru saja berpikir, jangan-jangan aku terangkat naik hanya karena aku membiarkan angin mendorongku dari belakang, membuatku terus melaju meski di tengah lautan lepas. Saat ombak besar datang, aku bahagia saat berada dipuncaknya, tapi kemudian tersentak saat ujung ombaknya habis dan aku berada di lengkungan terdasarnya untuk kembali diangkatnya lagi dikemudian waktu, untuk dijatuhkannya lagi setelahnya. 

Dulu, saat pertama kali aku hilang kendali saat marah, aku pergi menemui psikolog. Dan katanya memang begitulah hidup, ada senang, ada sedih, ada marah, juga kecewa. Semuanya berdinamika. Aku selalu mencari makna dari kalimat itu. Awalnya aku melihat dinamika itu sebagai fase. Satu fase yang harus aku lewati, mau tidak mau, suka tidak suka, entah bagaimanapun caranya. Selama aku bertahan dan melewati fase itu, maka aku berhasil. Lalu hidup kembali baik-baik saja. Sampai kemudian, fase itu datang lagi, dan aku merasa gagal. 

Saat aku bercerita pada seorang teman tentang semua hal yang terus berulang dalam hidupku seperti kaset kusut, dia yang mungkin sudah lelah meladeniku akhirnya menertawakanku dan berkata itu karena pengecutnya aku yang tak berani mengambil sikap. Lama aku memercayai itu, dan mungkin itu ada benarnya. Tapi ketika aku sampai pada titik ini, aku merasa mungkin itu hanya masalah waktu. Bahkan seorang peselancarpun harus menunggu momentum, kapan waktu yang tepat baginya untuk berdiri di atas ombak, atau bertahan menelungkupkan dirinya dibawahnya. 

Maka, saat aku kembali terduduk memeluk diri di ruang gelap itu lagi, aku akan ingat bahwa ini hanya gelombang lainnya yang sedang kulalui. Aku kembali ke titik ini bukan karena aku gagal, tapi karena ini hidup. Dan bagian terbaiknya adalah, betapapun kecil atau besar gelombang yang kita hadapi, kita sudah didesain mampu untuk menghadapinya. Entah itu di bibir pantai dengan riak-riak kecil yang memanjakan, atau di tengah samudera dengan banyak badainya. 

Semua orang punya riaknya sendiri, entah itu membuatnya terapung diatasnya, terombang-ambing, atau dilempar-tenggelamkan. Yang jelas, semua orang sedang berjuang, dan aku berharap kita semua bertahan. Karena meski terdengar klise, tapi percayalah tak ada badai yang bertahan selamanya. Maka bertahanlah. Terlepas dari hari seperti apa yang sedang kamu lalui, aku do’akan semoga hari-hari yang baik banyak menemanimu. 

Sekian cerita hari ini, sampai jumpa di tulisan lainnya ♥

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Kritik dan saran sangat diharapkan dan dihargai. Salam Blogger Indonesia.