Time Capsule

Selalu menyenangkan melihat sesuatu tumbuh dengan matamu sendiri. Meski kadang indra tak mampu menangkap perubahan kecil, tapi saat waktu berlalu dan mengingatkanmu pada saat yang tepat, kamu akan terpesona dengan keindahannya. Seperti ketika kamu membersamai tumbuh-kembang anakmu, seperti ketika kamu membersamai diri tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik hari ini. 

Berikut adalah catatanku hampir setahun lalu..

***

Juli 2025

Hidup dengan jatuh bangunnya. 

Apa do’amu yang paling jahat yang pernah kamu ucapkan untuk dirimu sendiri? Aku.. tak bisa memilih yang mana, karena kulakukan dalam banyak kesempatan. Memang betul bahwa yang paling jahat pada diri kita, ya diri kita sendiri. 

Pernah suatu pagi dengan suasana hati yang biasa saja, aku melihat langit yang begitu cerah dan bersih, namun hatiku bergumam “Bisakah aku menjadi bagian darinya? Menjadi udara yang tak terlihat, atau bahkan tak menjadi apapun, tak dimanapun.”

Mungkin, bisa kamu perkirakan apa yang aku ucapkan pada diri dengan suasana hati yang lebih buruk. Aku bisa meracau penuh caci-maki, menggerutu penuh keluh-kesah disertai tangisan pada dini hari sebelum mataku kupaksakan terkatup. Tapi begitu bangun, sial hidup harus tetap berjalan (kutulis dengan nada Bernadya). Masih bisa kuulangi siklus itu beberapa hari kemudian, kalau-kalau perasaanku masih sama meski setelah semua usaha, regulasi emosi, juga katarsis yang masih belum berhasil. 

Tapi jauh di dalam sana, aku bisa merasakannya, dinamikanya. Karena tahu, semuanya pasti mereda. Ungkapan bahwa malam tergelap adalah yang paling dekat dengan terbitnya cahaya, aku rasa, ada benarnya. Padahal, aku melihat pola ini sebelumnya, tapi ternyata aku belum cukup belajar. Saat hari terasa benar-benar berat, yang kulakukan selalu mengurung diri di kamar. Menutup rapat semua pintu. Aku bahkan bisa merasa terganggu dengan cahaya kecil yang masuk menyelinap dari celah sempit entah dimana. Semua jendela tertutup akan kulapisi lagi dengan benda lain sampai ia hitam pekat. Sampai yang kulihat hanya hitam. Sampai yang kudengar hanya suara napasku. Beberapa menit, atau beberapa malam, aku bisa tidur dengan keadaan itu. 

***

Ini tak sering terjadi, hanya beberapa kali saat aku punya kesempatan untuk menjadi diri sendiri. Bahkan jika suatu malam, saat tangismu sedang begitu dalam hingga kamu kesulitan bernafas, jika anakmu terbangun dan berkata “Mamaahh….” Kamu akan bangkit menghampirinya dan menenangkannya. 

Begitulah, tak ada waktu untuk bisa sepenuhnya meratap sampai habis, selalu ada sisa untuk kamu kecap esok hari, atau… hal-hal memuai dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Sama seperti hari ini. Sudah tak ada lagi jendela yang hitam pekat. Saat hari yang baru datang, yang kulakukan justru membuka lebar tirai penghalangku, memastikan agar cahaya masuk kesetiap sudut ruanganku. 

Melihat kembali catatan-catatan yang kubuat, rasanya seperti melihat perjalanan waktu, melihat bahwa ternyata kita berkembang, bahwa ternyata meski perlahan dan hampir tak terlihat, kita terus membaik.  

Meski hidup tak pernah memberi kita jeda, tapi setelah hari yang berat itu, setelah kehilangan yang selalu mengiringi itu, beserta semua hal tak nyaman yang menghampiri itu, kamu berhasil sampai pada hari ini. Pada titik ini, menjadi versimu yang terbaik. 

Sangat mengagumkan bukan, melihat bagaimana sang pencipta begitu bersabar atasmu, terus memberimu waktu meski yang sering kamu lakukan adalah menggerutu. Sangat mengagumkan bukan, melihat bagaimana Ia begitu menyayangimu, membiarkanmu bertumbuh, dari setitik kehidupan menjadi tunas kecil yang berseri, yang hingga saatnya tiba nanti semoga bisa berbunga dan berbuah manis. 

Sekian cerita hari ini, semoga hari-harimu senantiasa membaik, dan sampai jumpa di cerita lainnya! ♥

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Kritik dan saran sangat diharapkan dan dihargai. Salam Blogger Indonesia.